Bangsaku Tidak Gagal !


Judul diatas menjadi pilihan saya, bukan berarti saya ultranasionalis, apalagi mengejek nasib bangsa kita ditengah keterpurukan yang melanda, Bukan...bukan itu maksud saya!. Saya hanya mencoba mengajak kita semua, sebagai salah satu sumber potensi negeri ini ( Wuiiih...!), untuk menggunakan efek positif hukum Pygmalion. Pola pandang Pygmalion adalah tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Tidak pernah berpikir buruk tentang sesuatu; sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik dibalik suatu pengalaman buruk.


Dalam mitologi Yunani, Pygmalion dikenal sebagi seorang pematung jempolan. Dia seorang pemuda yang lugu, berbudi luhur, jujur, berpikir sederhana, dan memandang segala sesuatunya dari sisi positif. Ketika dia melihat beberapa orang anak nakal mencuri buah apel di kebun kecil miliknya. Ia malah memanggil mereka dan memberinya sekantung buah apel yang sempat disimpannya, lalu bergumam dalam hati : ” Kasihan mereka, orang tuanya tak mampu memberikan mereka makanan yang layak ”.
Sampai pada suatu ketika, Pygmalion memahat sebuah batang kayu dan menjadikannya sebuah patung wanita seukuran manusia sebenarnya. Berhari hari diselesaikannya patung tersebut. Karena kepiawaiannya, patung tersebut sangat mirip seperti wanita sungguhan. Dibuat sesuai dengan keinginannya, berbadan semampai, serta berparas elok. Bahkan manusia biasapun tak ada yang menyamai kecantikan paras, serta kemolekan tubuh patung buatannya.
Pygmalion menempatkan patung tersebut disudut kamar. Tidak cukup sekedar dipandangi, sesekali Pygmalion bahkan mengajaknya bicara, dipegangi tangannya hingga seolah- olah patung itu adalah isterinya.
Semua kawan dan kerabat Pygmalion, mencibir dan menganggapnya gila. Bagaimana mungkin si Pygmalion yang lugu mengganggap patung itu sebagai isterinya ?. Secantik – cantiknya patung pahatan, ia tetaplah kayu dan barang mati karena hanya merupakan benda seni dan tetap saja tak bisa dinikahi !
Namun Ditengah cercaan kawan dan tetangga, Pigmalion tak pernah berhenti berdoa kepada para Dewa, siang malam dia melantunkan doa agar kelak dianugerahi isteri secantik dan semolek patungnya. Para dewa yang ada di Gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap Pygmalion, lalu mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung itu menjadi manusia betulan. Begitulah, Pygmalion hidup berbahagia dengan isterinya itu yang konon adalah wanita tercantik di seluruh Yunani.

Kita mulai dalam hal seni. Bangsa kita adalah bangsa yang adiluhung, dalam berkesenian kita telah terbukti unggul, Reyog Ponorogo yang asli ponorogo pun di bajak oleh negara Maling sial tetangga sebelah kita, lalu diubah namanya menjadi seni Barongan. Barangkali ada anak bangsa yang tidak menyukai seni negeri sendiri serta lebih menyukai tarian salsa dan Breakdance. Tapi tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kegagalan. Itu cuma membutuhkan apresiasi, memperbanyak pertunjukan, mengadakan lokakarya seminar budaya, dengan sejumlah sesi tanya jawab. Yang namanya seni, pastinya akan tetap terasa indah , bermutu, dan dibutuhkan. Pernahkah kita membayangkan apabila demonstrasi mahasiswa di depan gedung DPR diawali dengan atraksi Reyog ponorogo untuk membangkitkan semangat. Dan diakhiri dengan pertunjukan tari Piring. Terlepas dari dipakai atau tidaknya piring-piring tersebut untuk melempari para wakil rakyat dan aparat keamanan, itu tetap seni, tetap menarik, terasa beda, dan lebih bermutu.

Telah kita rasakan bersama, bahwa kata Korupsi telah menjadi semacam hantu yang bisa merasuki warga negeri ini, siapa saja. Bukan hanya wakil rakyat dan aparat negara, bahkan penarik karcis pasar atau satpam pelabuhan pun bisa melakukannya. Itu hanya faktor mental. Untuk mengedukasi masyarakat, sekolah-sekolah bisa memasukkan kurikulum anti korupsi menjadi mata pelajaran wajib sedari dini. Korupsi terjadi salah satunya karena pendapatan masyarakat banyak jatuh ke beberapa golongan tertentu. Itu juga wajar saja. Karena rejeki tidak sama dengan sinar matahari, lebih mirip hujan , jatuhnya sering kali tidak merata. Televisi, radio, koran pasti bisa memberi santapan rohani dan penerangan untuk berwirausaha sehingga menambah penghasilan serta mengatasi pengangguran atau kemiskinan. Sampaikan informasinya secara jelas dan indah , bisa diselingi dengan kuis atau undian berhadiah. Pasti menarik dan tampak kreatif. Karena bangsa kita punya bakat kreatif sejak dulu, ban bekas pun bisa dijadikan sandal !.

Bicara urusan tekhnologi, kitapun harusnya berbangga. Eh.. siapa sangka, seorang cicit Hamengku Buwono VII telah menemukan Bahan Bakar Nusantara. Seorang jebolan filsafat UGM yang hanya sempat setahun kuliah, namun diakui oleh rektornya bahwa ke DO annya bukan karena malas atau bodoh, tapi karena terlalu pintar!. Dia memiliki ide cemerlang untuk memangkas proses penciptaan minyak bumi dari plankton selama jutaan tahun, menjadi hanya beberapa jam. Hasilnya telah terbukti dan dipraktekkan. Dengan kualitas setara pertamax , biaya produksi perliternya Rp. 500,- saja, bisa jadi akan mengurangi polusi. Saya membayangkan, mungkin beberapa tahun lagi tanker – tanker Pertamina akan berlayar sekaligus memproduksi Bahan Bakar Nusantara di lautan. Lautan kita luas, dan tidak usah kulakan plankton karena pertumbuhannya seperti deret ukur. Sepeda motor, mobil, pabrik, pembangkit listrik, semua akan menggunakannya. Multiplier efeknya sangat banyak. Daya beli meningkat dan kesejahteraan masyarakat akan tercipta. Benar – benar pemikiran kreatif dan ide cemerlang seorang anak bangsa !

Jangan sebut ini impian, tapi katakan ini harapan.
Bangsaku akan menjadi negeri yang indah.
Setiap orang saling mengucapkan salam ketika berpapasan.
Lalu melanjutkan perjalanan tanpa keraguan .
Tidak ada saling dendam, tak ada dusta , tidak ada kemarahan maupun kecemasan.
Diantara mereka akan saling mendoakan sesamanya.
Tuhan....
Limpahkanlah kami energi untuk membangun negeri ini.

Mari kita lakukan bersama....
Selamat beragustusan

asrul martanto

ilustrasi :http://www.deplujunior.org

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM