Banyak Rejeki Banyak Anak

” Banyak Anak Banyak Rejeki ” .Suatu cara penafsiran unen- unen yang menurut saya adalah keliru . secara apa adanya, bisa diartikan bahwa setiap anak yang dimiliki, pasti akan memiliki jatah mencari, dan mengumpulkan rejekinya sendiri- sendiri sesuai dengan kemauan dan kesanggupannya masing masing. Suatu cara pandang yang menganggap bahwa anak adalah juga tenaga kerja yang mampu menghasilkan rejeki. Tapi itu dulu. Bisa diterapkan disaat masih luas lahan untuk digarap, pangan, sandang, & papan masih dapat terbeli dengan harga terjangkau. Namun saya berpendapat bahwa tidak ada budaya yang perlu dianggap keliru, budaya merupakan hasil budi daya pikiran tetua kita jaman dulu. Dengan kata lain ’ Banyak anak- banyak rejeki’, tidak layak untuk diterjemahkan secara apa adanya pada saat ini. Butuh penerapan sesuai dengan perubahan jaman & perilaku manusianya. Mungkin bisa saja bila sekedar memberi makan, namun arti kata menafkahi, bukan hanya sekedar berarti menghidupi, didalamnya terkandung juga kewajiban untuk menyekolahkan, mengobati tatkala si anak sakit, dan kewajiban lainnya hingga menghantarkan anak menuju gerbang kemandiriannya. Satu ilustrasi cerita akan saya sampaikan di bagian akhir tulisan ini .


Bagaimana kalau, penafsirannya dibalik sehingga menjadi :” Banyak rejeki – banyak anak ”, artinya kalau kita punya banyak rejeki, maka punya banyak anak pun tak mengapa. Dan berarti pula memiliki banyak anak bukan suatu keharusan, tapi diperbolehkan apabila rejeki kita berlebih , walaupun ada slogan ” dua anak cukup ”. Hal tersebut terjadi pada beberapa teman kita, dan memang tak mengapa karena memungkinkan untuk itu. Atau bisa juga memiliki prinsip dan alasan kuat dalam ber KB, Keluarga Besar. Itu juga tak mengapa, karena sekali lagi didukung oleh alasan & kondisi yang sangat memungkinkan.

Lalu bagaimana peran serta pemerintah dalam hal ini ? Tak kurang kurangnya diluncurkan beberapa program diantaranya : Keluarga berencana dan Posyandu. Namun pencerahan iklan di televisi, rasa- rasanya telah agak berbelok, walaupun diakui juga memiliki bobot kepedulian di aspek yang lain. Iklan alat kontrsepsi kondom misalnya, diakhir narasi dijelaskan pula kegunaanya dalam pencegahan penularan Virus HIV ~AIDS. Belum lagi apabila pesan yang kita tangkap adalah sebagai alat pencegahan kehamilan di masa pra nikah ! . Walau bisa dianggap perlu, namun tujuan semula kegunaan alat kontrasepsi telah sedikit tergerus.


Sore hari yang cerah, di halaman TK Periwi Mlati Kidul, berkumpul beberapa orang ibu yang sedang menemani anak – anak mereka bermain. Sambil mengawasi si anak, dua orang ibu tampak saling berbincang. Satu diantaranya bernama Bu Farji, isteri Pak Subur penjaga TK yang merangkap sebagai petugas kebersihan. Satu lagi bernama Bu Amin, seorang warga baru & tetangga sekitar TK. Begini kira – kira percakapan mereka :

” Jeng Farji, berapa usia kandunganmu sekarang ? ” Bu Amin membuka pertanyaan.
” Kira – kira 4 bulan, sudah mulai terasa tendangannya.... ” Jawab Bu Farji.
” Jadi, sekarang berapa jumlah putranya ? lanjut Bu Amin.

Tidak langsung menjawab, Bu Farji terdiam sejenak, dan sedikit tersipu, barangkali malu.

” Ini yang kelima. ” jawabnya sambil mengelus perutnya yang mulai membesar.
” Waah... Subur Sekali... ” ucap Bu Amin kaget.
”Penginnya sih, semoga ini yang terakhir, tapi ini salah bapaknya anak – anak... Kalau malam enggak sempat pakai celana, maunya Mak Nyuus ! melulu.... ”

Mereka berdua saling tertawa.
Lalu terdiam sejenak....

Bu Amin kemudian mendekati telinga Bu Farji dan mulai berbisik ..
” Saya ada ide...Kalau si jabang bayi lahir lali laki, beri saja nama : ’ ENDy’ ”
Sedikit mengangguk, Bu Farji, lanjut bertanya ” Kalau perempuan..... ? ”
Bu Amin menjawab : ” Kasih saja nama....’TITIK’ ”


Salam

asrul martanto

ilustrasi:http://www.historel.net

Komentar

ahmadx mengatakan…
banyak rejeki harus usaha dulu...
just info:ada bisnis online nich gratis tanpa resiko di sini & di sini

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM