Kartinian


Wajah-wajah kecil nan cantik, dipadukan dengan pakaian daerah berwarna warni, menghiasi upacara Kartinian 21 April yll di sekolah anakku. Beberapa diantaranya tertawa riang, beberapa lagi malu – malu menutupi riasan diwajahnya. Agak berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Tahun ini, Kartinian di SD 02 Wergu Wetan Kudus, mengharuskan siswa pria berpakaian daerah pula.
Tahu akibatnya ?
Tanggal tua bagiku , mengharuskan untuk menyisihkan Rp. 225 ribu, guna membayar sewan beskap & kebaya bagi ketiga anakku ( @ Rp.75. ribu ).
Tapi tak mengapa, penampilan mereka sungguh membuatku bangga. Mereka tampak gagah.

Beberapa kali kuambil gambar mereka, gembira rasanya melihat mereka senang. Tak lupa gambar gembira tersebut kucetak tiga kali, satu untuk mereka, satu untuk mbah putri di Semarang , & satu lagi untuk saudara – saudari mereka di Slawi.


Tak berapa lama setelah masing – masing menerima kiriman foto dari Kami, terbayang betapa senangnya Mbah putri di Semarang & Slawi melihatnya.
Dan benar dugaan kami, isteriku menerima telephone dari Ibunya, kemudian kulihat isteriku berbicara dengan sesekali diiringi tawa. Aku ikut senang.
Lalu isteriku menyerahkan gagang telepone padaku.
” Ibu ingin bicara ” katanya.

Sejenak aku mendengarkan Ibu mertuaku bicara:
”cucuku kelihatan gagah....
Ning sajak√© wis wayah√© disunat ...”
Sungguh tertegun aku mendengarnya, Insentive dari kantor yang akan Kami terima, sedianya Kami cadangkan untuk memperpanjang kontrakan rumah, bayar 2 tahun dimuka!

Untunglah anakku, adalah tipe yang pengertian, dan memang Ia belum memintanya. Kepadanya kukatakan :

” sunatnya nanti,
nunggu yen titite wis rada gedhe,
saiki isih sak jenthik, yen disunat saiki , ora bakalan bisa dadi gedhe.
..”

Rasanya sungguh tak enak, anakku mengetahui ketidak siapan Bapak Ibunya.

asrul martanto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM