SAHABATKU HASAN.




Pada lebaran 5 tahun lalu, seorang sahabat semasa SMA secara tidak sengaja bertemu dengan saya di Stasiun Tawang Semarang , Hasan , begitu saya biasa memanggil dirinya. Saat itu saya bersama keluarga hendak berkunjung ke rumah mertua , dan dia baru saja turun kereta dari Surabaya. Walaupun badannya tampak sedikit agak gemuk, namun satu yang tidak membuat saya lupa padanya yaitu cara dia menyapa, masih sama seperti dulu, dia memanggil saya :” Mas Ben.. ! ” . Hasan dulunya adalah adik kelas saya , kedekatan kami terbina karena satu minat tentang kegemaran menulis. Kami juga anggota teater sekolah, beberapa pentas di Taman Budaya Raden Saleh, pernah kami lakoni bersama.


Kaget sekali saya melihatnya setelah sekian lama tak bertemu. Hasanpun mengaku demikian juga. Terutama setelah kuajak masuk ke warung di peron Stasiun untuk sekedar minum, dan saya mulai merokok. Lalu dia berkata :
” Loh, sekarang merokok to Mas..? ” . Rentang waktu yang panjang ternyata membuat saya melupakan satu hal yang tidak disukai Hasan dan baru kuingat sekarang : Hasan tidak suka perokok !. Walaupun saat sekolah dulu saya sudah merokok, namun selalu saya lakukan secara sembunyi – sembunyi dan tidak pernah saya lakukan di lingkungan sekolah, jadi tidak ada seorang temanpun yang tahu, tidak juga Hasan. Dia beralasan bahwa merokok tidak baik untuk aktivitas teater, bisa merusak intonasi !

Saat itu pula kami mengenalkan anggota keluarga masing – masing. Dia katakan bahwa , sudah hampir sembilan tahun mereka tinggal di Surabaya. Sayangnya pertemuan yang membahagiakan tersebut harus terputus lagi, manakala KA Kaligung jurusan Tegal diberitakan siap untuk diberangkatkan. Tak lupa kami saling bertukar nomor HP & email sebelum berpisah.

Dua bulan setelah pertemuan tersebut , Saya menerima kiriman email dari Hasan. Sejenak saya tertegun membacanya . Isinya adalah sebuah sajak, salah satu karya gemilang dari Bp Taufiq Ismail. Begitu panjang isinya sehingga terkadang saya mengiranya sebuah essai atau cerpen dengan gaya tulisan yang khas dan sedikit jenaka. Di akhir surat, Hasan berharap agar saya bisa menjadikannya sebagai bahan renungan. Beberapa bagian ”unik” dari sajak tersebut saya salin dalam tulisan ini
( tidak semuanya & mohon maaf kepada Bapak Taufiq Ismail ), judulnya adalah tuhan Sembilan Senti .
Berikut petikannya :

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Disawah , petani merokok
di pabrik, pekerja merokok,
di kabinet, menteri merokok,
di pabrik petasan, pemilik modalnya merokok,
di balik pagar SMU, murid mencuri – curi merokok,
di andong Yogya, kusirnya merokok,
sampai kabarnya ada kuda andong minta diajari pula merokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur, ketika dua orang bergumul saling menularka HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok, dikantor atau distopan bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.
Di puskesman pedesaan, orang kampung merokok,
di apotik, yang antri obat merokok,
di panti pijat, tamu- tamu disilahkan merokok,
istirahat main tenis, orang merokok,
di pinggir lapangan voli, orang merokok,
menyandang raket badminton, orang merokok,
pemain bola PSSI, sembunyi – sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola, mengemis- ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ’ek- ek’, orang goblok merokok.
D sebuah ruang sidang ber AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisab.Haasaba, Yuhaasibu, Hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.
Diantara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya,putih warnanya,
Kemana- mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan tasbih 99 butirnya.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam Khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging Khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan ?
Tak perlu dijawab sekarang , ya ustadz.
Wa yuharrimu ’alayhimul Khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang- tenang,
Karena pada zaman Rasulluuah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Pada saat sajak ini dibacakan,
Berhala- berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,....jutaan jumlahnya,
Bersembunyi dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
Diiklankan dengan indah dan cerdasnya.
Tidak perlu wudlu atau tayyamum menyucikan diri,
Tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan – tuhan ini,
Karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat, lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan – tuhan ini,
Robbana........
Beri kami kekuatan menghadapi berhala berhala ini.



CATATAN : Sajak berjudul: tuhan sembilan senti karya Bp Taufiq Ismail yang dikirimkan Hasan, ternyata telah berhasil membuat saya termenung, dan sangat menyentuh. Itulah gunanya seorang sahabat. Email balasan telah saya kirimkan kepadanya beberapa hari kemudian. Akan saya ceritakan di lain kesempatan.
Beberapa hal yang perlu pembaca ketahui dari tulisan saya diatas, antara lain :

BEN :
adalah nama samaran saya, dulu biasa saya pergunakan sebagai pengganti nama asli saya, saya pergunakan bilamana isi tulisan adalah sindiran, kritik, atau hal yang mungkin bisa menyinggung perasaan orang lain. Adakalanya dalam 2 tulisan yang dimuat bersamaan, satu ~ memakai nama asli saya, satunya lagi ~ memakai nama
’Ben’. Tentu keduanya saya buat dengan gaya tulisan yang berbeda.
Secara leksikal sebutan
’Ben’ dalam Bahasa Jawa berarti : ’Biar’ . Bisa dipakai secara luas dengan memakai imbuhan, sehingga artinya bisa menjadi : ’ biar pinter’ , ’ biar sembuh ’, ’ biar kuat’, atau bahkan :’ biarkan saja’. Sebutan ’ Ben’ saat ini sudah tidak saya pakai lagi.

HASAN:

adalah nama panggilan yang saya berikan kepada salah seorang sahabat terbaik saya semasa SMA dulu, nama aslinya adalah:
Hany Nurhasanti. Panggilan: ’Hany’, ’Nur’, atau ’Santi’ untuk seorang wanita, bagi saya adalah terlalu umum. Tentunya sebagian besar pembaca tidak akan mengira, apabila yang saya sebut sebagai Hasan dalam tulisan ini , ternyata adalah cewek. Panggilan Hasan baginya, terasa lebih berpotensi untuk menggelincirkan perkiraan pembaca. Dan telah terbukti pada tulisan saya kali ini. Hany Nurhasanti adalah seorang kawan yang luar biasa, dialah satu-satunya orang yang melarang saya untuk ikutan mendaftar ke AKABRI saat lulus SMA ! Walaupun orang tua saya sendiri sudah mengijinkannya. Tahu alasannya.... ? Saat itu dia berkata :

” Mas Ben, tidak usah ikut tes, batalkan saja! , Kalau masih idealis, percuma, paling pol cuma jadi Kapolsek ! Kalau mau ikut arus, mungkin minimal bisa kolonel, Tapi kayaknya juga ndak mungkin...Mas paling cocok jadi penulis, kalau berhasil bisa jadi sastrawan, kalau gagal pait – paitnya jadi filsuf ” .begitu ujarnya sambil tertawa ngakak.



Yang menjadi pertanyaan dalam hubungan pertemanan kami( antara pria~wanita), tidak adakah
bumbu lain yang saya rasakan pada saat itu ? Tentu saja ada ! Meskipun tidak selalu disambungkan dengan urusan paras, namun kecocokan ide, kegemaran, atau hal yang bersesuaian lainnya , pasti akan membekas & membentuk kesan. Kalau kesan pertama begitu menggoda. Maka titik kritisnya ada di keberanian. Dan keberanian saya pada saat itu, ternyata hanya sebatas mampu membuat tema bertajuk : Nyaris Saja !, dengan judul : Sahabatku Hasan.

salam persahabatan


asrul martanto

ilustrasi:http:www.bp2.blogger.com

Komentar

Candra mengatakan…
roko membuat kita percaya diri.hehe.. tapi sekarang rokok membuat sakit diri, dan juga termasuk mendzolimi diri sendiri.gitu komentar menurut saya mah.hidup tidak merokok..

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM