Bapakku, Adalah Orang Yang Luar Biasa !


Ada dua kejadian yang selalu membangkitkan kenangan atas diri bapak saya.
Kejadian pertama terjadi saat belum genap sepuluh tahun usia saya, waktu itu saya memiliki sebuah sepeda mini, saya dapatkan sebagai hadiah ulang tahun saya yang kedelapan. Sering saya pergunakan bermain jauh hingga ke Tegalsari ( sekitar Jl Sriwijaya ~ Semarang ). Suatu sore bersama dua orang teman, kami bersepeda bersama. Entah bagaimana awalnya, saya terserempet sepeda motor hingga terpelanting jatuh. Pengendara sepeda motornya ternyata tidak berhenti, sekedar menoleh pun tidak. Lengan kiri saya terasa sakit sekali , agak bengkak di pangkal lengan, ” Tidak apa – apa hanya terkilir, tak ada yang patah, sedikit diurut akan pulih nanti ” begitu kata seorang tukang becak yang menolong dan menenangkan saya.


Rencana bermain bersama yang sedianya kami lakukan jadi berantakan. Saya diantar pulang dengan diboncengkan teman, dan sepeda turut dibawa pulang ke rumah dengan dinaikkan becak. Kondisi sepeda rusak berat, rodanya bengkok & tidak bisa berputar . Sesampainya di rumah, rasa takut yang amat sangat menerpa saya, bayangan kemarahan Bapak hampir jelas terbayang. Namun apa yang terjadi, ternyata bapak tidak marah, penjelasan Tukang becak yang menceritakan ikhwal kejadian, sangat membantu saya. Tidak ada raut muka kemarahan yang terpancar dari wajah Bapak. Malamnya bapak mendampingi saya dipijat sambil banyak memberi nasehat. Walaupun terasa bosan saya mendengarkannya, karena memang demikianlah yang biasa dilakukannya terutama saat mendapati ada tindakan anak –anak yang tidak selaras dengan kata hatinya, maklum bapak adalah seorang guru.

Kejadian kedua adalah ditahun – tahun pertama saya mulai bekerja. Waktu itu saya bertugas di BRI Unit Balapulang Kantor Cabang Tegal. Sebagai seorang teller, saya sempat merasakan pengalaman paling tak enak. Kas Teller akhir hari, ternyata kurang dengan sisa perhitungan sisa kas di komputer. Jumlahnya terlalu banyak bagi saya pada saat itu, kurang seratus ribu rupiah !, Begitu besar bagi saya karena gaji saya saat itu hanya Rp. 160.000,- ditambah uang remunerasi Rp. 45.000,-. Mencocokan tapak validasi dengan nominal transaksi telah saya kerjakan, dan tidak ada yang salah. Menelepon ke beberapa nasabah yang melakukan mutasi transaksi mencurigakan telah pula saya lakukan , bahkan dibantu oleh mantri dan Kaunit. Mau bagaimana lagi, terpaksa saya tombok.

Pengalaman tersebut saya ceritakan kepada bapak, ketika saya pulang ke Semarang. Dan tanggapan bapak masih seperti biasanya. Dengan lancar dan seolah tanpa beban, beliau katatakan kepada saya :
” Masih beruntung hanya seartus ribu, kalau lebih kan kamu tidak makan, tidak bisa bayar kos, dan tidak bisa pulang ”
Nasehat yang seirama seperti dulu, kalau dulu beliau katakan:
” Masih untung hanya lengan kirimu yang terkilir, kalau lengan kananmu yang kena pasti susah buat nulis. Masih untung hanya lengan, kalau kakimu yang kena, pasti harus
prei sekolah lama, masih untung ada yang menolong, Dan masih untung hanya rodanya sepeda yang rusak, masih bisa diperbaiki...... ”

Satu hal yang membuat berbeda dari pengalaman terdahulu. Kali ini saya perhatikan benar - benar nasehatnya. Saya renungi dalam-dalam perkatannya. Meskipun ada sedikit ketidak-terimaan di hati namun saya mencoba untuk menjadi pendengar yang baik. Tidak hanya itu, sayapun mencoba membuka mata hati lebar – lebar agar bisa menerima nasehatnya.
Barulah saya ketahui kemudian, ternyata bapak telah menerapkan prinsip
kawruh begja diseparuh bagian akhir sisa hidupnya. Dalam bahasa Indonesia Sikap Begja bisa diartikan sebagai keberuntungan atau perasaan merasa beruntung. Satu hal yang juga dikatakannya adalah :

” Kamu bisa mengikuti apa yang bisa dilakukan orang lain, tapi kamu tidak mungkin mengikuti keberuntungannya” .

Sesaat setelah itu, saya baru merasakan. Oh, ternyata ini .....babak pencerahan yang berusaha diberikannya, nafas baru untuk bekal saya kelak dikemudian hari. Melengkapi nasehatnya , bapak juga menyampaikan prinsip
6 sa dalam menjalani hidup, yaitu: Sabutuhe, Saperlune, Sacukupe, Samesthine, Sapenake, Sabenere.

Kali ini saya terima petuah dari Bapak , tanpa ada keterpaksaan seperti dulu, barangkali karena dipengaruhi oleh kebutuhan akan pencerahan pada saat-saat sulit seperti yang saya alami.
Pelajaran berharga telah saya terima dari Bapak, Kawruh jiwa bagi manusia untuk melepaskan segala atribut keangkuhan, bagi kita yang bersedia menjadi manusia sederhana dan rendah hati, yang mendambakan kondisi masyarakat yang damai dan sejahtera. Puncak dari kawruh jiwa adalah mengetahui gagasannya sendiri dengan menimbulkan rasa senang dan selalu bahagia, bahagia yang bebas, dan tidak tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan. Sungguh sesuatu yang sulit untuk dipelajari dan dijalankan. Begitulah orang Jawa.

Tidak akan pernah ditemukan
rasa bahagia apabila kita mencarinya. Rasa bahagia hanya bisa ditimbulkan melalui suatu proses produksi dalam diri & jiwa kita sendiri. Jadi sekali lagi, kita harus membuatnya, karena tak akan ketemu apabila kita cari, memicu rasa bahagia adalah dengan sugesti senantiasa merasa beruntung. Hanya dengan begitu kita bisa terhindar dari rasa cemas, kecewa, dan ketakutan yang tak beralasan . Rupa – rupanya bapak pernah menerima pelajaran ilmu jiwa dari Ki Ageng Suryomentaram tentang Kawruh jiwa sawetah. Kemungkinan diperoleh dari pergaulannya di Taman Siswa dulu.

Demikianlah secuil pengalaman batin saya bersama bapak. Walaupun saat ini bapak sudah tiada, namun kenangan akan petuah nya tak pernah saya lupakan.
Bapak menjadi sosok luar biasa bagi saya.
Bapak bersedia membantu mengangkat beban berat dari bahu saya, dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu.
Adakalanya bapak membantu membuat impian saya menjadi kenyataan, bahkan diapun bisa meyakinkan saya untuk melakukan hal – hal yang mustahil, seperti bagaimana caranya bisa mengapung diatas air setelah ia melepaskannya.

Pelajaran lain yang pernah bapak sampaikan :
" kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkualitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya"

Untuk masa depan anak lelakinya bapak berpesan:
"jadilah lebih kuat dan tegar dari padaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku berikan padamu"

Bapak tidak pernah mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik....

Dan yang terpenting adalah... Bapak tidak pernah menghalangi saya untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar saya dapat menggapai cinta Nya, karena diapun mencintai saya karena cinta Nya.

Bapak begitu luar biasa bagi saya.

Apabila ada diantara Anda yang beruntung, masih memiliki
BAPAK di dunia ini.
Ajaklah beliau keluar makan malam, atau sekedar jalan jalan...... MALAM INI JUGA....
Dan JANGAN DITUNDA.....!
Bila bapak anda berada di tempat yang jauh dengan Anda.
Maka teleponlah dia ....MALAM INI JUGA..... Just Say ” Hello..... ”
Catat, dan ingat- ingatlah saat ulang tahunnya.
Lalu rayakanlah.
Bawakan makanan kegemarannya.
Berbagilah cerita indah bersamanya.
Bahagiakanlah dia semampu Anda.
Sebab seorang Bapak adalah pribadi yang luar biasa bagi Saya
Dan pasti bagi Anda juga .....



Semarang, menjelang tahun ketujuh
kepergian Bapak .

anak yang begitu merindukan bapaknya......

asrul martanto



CATATAN :

Siapakah Ki Ageng Suryomentaram yang saya sebutkan diatas itu ?. Beliau adalah seorang pangeran, putra ke 55 dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII, dilahirkan di Yogyakarta 20 Mei 1892 dan wafat 18 Maret 1962. Nama aslinya adalah: BRM Kudiarmadji, yang memiliki kegemaran membaca & belajar tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan Agama Islam dan mengaji diperoleh dari KH Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Nama Panggilan Ki Ageng Suryomentaram, diberikan oleh Ki Hadjar Dewantara, dalam saresehan malam selasa kliwon saat pembentukan Taman Siswa. Apabila Ki Hadjar Dewantara bertugas sebagai pendidik semangat kebangsaan generasi muda, maka Ki Ageng Suryomentaram diberi tugas mendidik orang – orang tua.

Karya dan wejangan-wejangan Ki Ageng Suryomentaram ini juga telah digunakan sebagai bahan skripsi/tesis/disertasi, antara lain oleh: Dr. J. Darminta S.J. (disertasi di Universitas Gregoriana, Roma, 1980); Drs. Darmanto Jatman (tesis Fakultas Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta, 1985); Drs. Josephus Sudiantara (skripsi Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, 1983); Drs. A. Widyahadi Seputra (skripsi Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, 1986); Drs. Nur Satwika (skripsi Fakultas Sastra UNS, Surakarta, 1989).

Marcell Bonneff, peneliti dari Paris University , telah mempelajari wejangan Ki Ageng ini secara lengkap dan kemudian menulis buku tentang hal ini dalam bahasa Perancis, berjudul "Ki Ageng Suryomentaram, Prince Et Philosophe Javanais".


ilustrasi:http://www.bp1.blogger.com

Komentar

Gus-Nhanks mengatakan…
seringkali kita masih merasa seperti kanak-kanak, masih membutuhkan sentuhan kasih sayang dan figur Bapak, nyatanya kita telah kehilangan fisiknya bukan petuah-petuahnya, yang selalu kita kenang hingga akhir hayat
tomcat mengatakan…
Ya Mas, akhir - akhir ini, kalau susah tidur aku sering ingat almarhum Bapakku.
Anonim mengatakan…
Ya, sobat yang baik. Itulah tindakkan "mikul dhuwur, mendhem jero" Alangkah lebih baik lagi, sewaktu malam, saat berdoa, persembahkan ingatan ke "your father< kirim energi pikiran, ayahanda jiwa selalu damai sejahtera. kalo ada fotonya ayah, tempelkan di dinding, untuk mengenangnya.
tomcat mengatakan…
Thank's atas sarannya, tapi siapakah Mr/Mrs/Miss Anonim ini..?
Bukankah email address, phone number , & alat komunikasi lainnya merupakan sarana penyambung silaturahmi...

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM