Cinta Bangsa


Aristoteles membagi kategori cinta menjadi 3 bagian:
Cinta Amor : adalah cinta antara pria dan wanita dewasa dalam arti sesungguhnya
Cinta Fillial : cinta kepada keluarga,Ibu, Bapak dan saudara saudari kita
Cinta Agape : adalah cinta kepada Tuhan, Sang Maha Pencinta & pemilik Segala Maha.
Lalu Cinta Tanah air bangsa negara masuk kategori yang mana ?
Mari kita diskripsikan sendiri cinta kita kepada tanah air kita. Kita geser sedikit atau kita setting ulang wujud rasa cinta kita pada negeri ini, ditengah keterpurukan yang melanda.


Negeri yang indah, tidak hanya dilihat dari rendahnya angka korupsi.
Malu kita mengetahui bahwa Indonesia sebagai 6 besar didunia dan 2 besar di asia tenggara. Namun disisi lain, kita tidak usah malu mengetahui pemberitaan di media, wujud dari kemauan & kemampuan untuk berubah adalah dengan berhasil menangkap dan mengadili para koruptornya.


Bangsa yang besar, tidak hanya dilihat dari besarnya jumlah tentara dan hebatnya peralatan tempur . Tapi lihatlah juga dari keterampilan tentaranya memelihara peralatan yang sudah tua. Siap menjaga keutuhan Bangsa walau dengan peralatan sisa perang dunia kedua dan tidak ada yang baru . Perhatikan saja yang dilakukan para tamtama sebelum ikut parade, ban panser pun disemirnya !
”Dana yang ada bisa digunakan untuk membangun sekolah baru” begitu kata mereka.


Jangan hanya melihat bahwa sebagian besar orang kaya menyekolahkan anak mereka di Luar negeri. Dan banyak sekolah beramai – ramai menerapkan kurikulum berbasis internasional. Kita juga seharusnya melihat fakta bahwa telah berulang kali adik-adik kita menjuarai Olimpiade Fisika dan Matematika. Mereka semua adalah produk dalam negeri.
Akankah produk luar negeri menjadi lebih unggul dari produk lokal ?
Tidak ! Produk lokal akan terasa lebih membanggakan, akan lebih mumpuni, dan akan lebih bermutu !


Negeri yang Indah, bukan berarti tidak ada bencana yang melanda.
Indonesia ditakdirkan sebagai negara yang luas dan memanjang dari Sabang sampai Merauke, panjangnya hampir menyamai jarak benua eropa dari timur ke barat.
Sudah wajar apabila sering ada bencana. Itu hanya faktor alam.

Namun lihat juga dibanyak tempat, pada akhirnya banyak remaja berseragam sekolah mau mencari sumbangan untuk palang merah. Posko Bencana mereka dirikan dimana-mana, uang, mie instant, dan pakaian bekas juga mereka kumpulkan.

Wujud kepedulian sosial dan kesetia kawanan yang membanggakan. Setidak tidaknya merupakan jawaban bahwa mereka tidak hanya bisa tawuran, mabok-mabokan, atau santai-santaian.



salam

asrul martanto.


ilustrasi:http://img255.imageshack.us/img255/752/posterindihb0.gif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM