Filosofi Ayam


Saya memiliki seorang teman, dia adalah tetangga depan rumah saya di Slawi dulu . Namanya Jaenuri, pria kelahiran Batang. Dia bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Tegal. Sama – sama sebagai mahluk pendatang dan kebetulan tinggal bertetangga adalah kondisi yang mendekatkan kami. Ngobrol di luar rumah selepas Isya merupakan rutinitas yang biasa kami lakukan. Kegiatan lain yang biasa kami lakukan berdua adalah kegemaran mengintip.

Apa yang biasa kami intip ? Kami berdua biasa mengintip aura siapa saja yang lewat atau berada di sekitar kami, bisa tetangga, orang lewat, anak – anak kami , atau bahkan ayam dan kucing. Aneh Ya ?
Kebetulan Jaenuri memiliki latar belakang pencak silat Budi Suci, olah kanuragan yang banyak menyertakan olah batin. Walaupun antara saya dengan dia berbeda aliran namun dalam banyak hal , arah muaranya adalah sama.


Suatu siang di hari minggu, kami pernah praktekkan pada seekor ayam. Kebetulan tetangga kami ada yang melihara beberapa ekor ayam. Kalau siang ayam dibiarkan berkeliaran mencari makan dengan mengais makanan sisa di halaman. Sesekali saja pemiliknya memberi makan bekatul atau sisa makanan. Menjelang sore mereka akan pulang kandang dengan sendirinya. Salah satu yang kami perhatikan adalah seekor ayam betina yang kelihatan gemuk dan sehat.

Saat itu aura si ayam terlihat berwarna hijau kebiruan. Biasanya warna aura seperti itu pada manusia menggambarkan energi positif, bentuk kepasrahan, kebahagiaan, dan kedekatan hati pada illahi. Namun ternyata dua hari kemudian, kami mendapati ayam milik tetangga kami tersebut mati , terlindas sepeda motor !
Saat itu kami menganggap bahwa hasil intipan ternyata Meleset !

Namun beberapa hari kemudian , kami menemukan satu jawaban bahwa ternyata petaka kematianpun, tidak selalu dihadapi dengan ketakutan atau energi negatif. Kematian bisa dikemas dalam kondisi kepasrahan, kebahagiaan, dan rasa syukur pada Illahi. Warna auranya menunjukkan itu.

Hal lain yang bisa kami petik dari seekor ayam sebelum ajal menjemputnya adalah :menjalani kehidupan dengan rumusan 3 kepenak ( merasakan enak ) yaitu :
Mangan kepenak : bisa menikmati makanan, apapun, seberapapun, & kapanpun.
Turu kepenak : bisa merasakan tidur dengan nyenyak
Ngising kepenak : buang air dengan lancar.
Itu semua dirasakan dan terjadi pada hewan bernama ayam, hewan lain mungkin juga demikian. Kebetulan hanya ayam yang kami jadikan bahan intipan.

Bisakah itu diterapkan pada manusia dalam menjalani hidupnya ?.
Saya persilahkan pembaca untuk mengkajinya sendiri.
Seekor ayam hanyalah hewan yang biasanya menjadi lauk makan kita. Dalam kasus ini, mungkin saja si ayam itu mati dalam rasa syukur, setidak-tidaknya bangkainya dikubur, dan tidak berakhir di meja makan.

Hasil intipan kami berdua pada sesama manusia, jelas tidak akan pernah saya tulis kepada pembaca atau sampaikan kepada siapapun. Biarlah menjadi rahasia kami.

Salam
asrul martanto

NB : Beberapa minggu setelah saling berkirim SMS permintaan maaf , dan sekedar mengucapkan selamat idulfitri 1428 H. Saya kehilangan seorang teman yang banyak mengajarkan filosofi tenteram dan damai. Saya selalu menganggapnya sebagai orang baik yang bersedia berbagi pandangan, pengalaman, atau hal apapun kepada saya.

Berita meninggalnya Jaenuri begitu mengagetkan saya.
Dia meninggal karena sebab sepele,
masuk angin sehabis senam pada minggu pagi.
Begitu mudahnya dia menghadap Yang Maha Kuasa.
Begitu teganya dia ,
sehingga merepotkan kawan dan tetangga pun dia tidak mau.
Bahkan hingga akhir hayatnya.

ilustrasi :http://www.fiandigital.files.wordpress.com/2007/03/ayam_keok_keok

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM