Walau Badai Tak Segera Berlalu……


Paradigma berpikir dari dalam hati dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata pada kondisi apapun, saat keadaan hati sedang berbunga – bunga ataupun saat goncang terkena badai.

Memiliki paradigma berpikir dari dalam hati dapat menjadi sumber inspirasi yang dapat memancarkan energi positif ke sekeliling kita, sehingga melahirkan kreativitas dan produktivitas . Karena dirinya selalu mencari sifat-sifat mulia yang bersumber dari hati yang merupakan percikan sifat-sifat mulia Allah.


Kalau hal ini dijadikan sebagai sebuah landasan berpikir pada akhirnya dapat mengantarkan manusia meraih keagungan insani. Yakni memiliki hati yang senantiasa "taqarrub" menuju kepada sifat-sifat mulia Allah. Karena manusia memiliki watak dasar selalu mencari sifat-sifat mulia Allah yang sudah "built in" di dalam dirinya untuk memenuhi kebahagiaannya.

Jadi apapun kondisinya, dimanapun tempatnya, dan kapanpun waktunya, sertakanlah hati nurani sebagai landasan berpikir, dan bertindak.

Dan apabila gumpalan mega yang tebal itu menghantam rangkaian gunung yang padu, Maka pecahlah ia berkeping – keeping, dan tinggallah kepermaian rona penghias lereng “

( Tebaran Mega, Sutan Taqdir Alisjahbana, April 1935 )


Salam
asrul martanto

ilustrasi :http://www.images.google.co.id/krakatau_oa01yv3.jpg

Komentar

Gus-Nhanks mengatakan…
Mungkin....hati nurani plus akal sehat ya Mas, karena saat ini sebagian besar warga kita telah kehilangan akal sehat, sehingga tidak mampu berpikir secara baik terlebih tanpa dilandasi hati nurani...wis....bubrahlah bangsa Indonesia.....

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM