Cerita Dari Kampung Tenteram

Ini adalah cerita tentang sepasang suami isteri di daerah Bantul, DIY. Sepasang kakek dan nenek , sepasang petani, yang memiliki dua orang anak . Kini kedua orang anaknya telah berumah tangga . Anak sulungnya, lelaki, telah memberi mereka dua orang cucu dan tinggal di Semarang. Anak perempuannya juga telah memberinya sepasang cucu , dan kini tinggal di Kudus mengikuti si suami.

Walaupun telah berusia 65 tahun, sang kakek masih tampak gagah dan rajin menggarap ladang yang tidak terlalu luas . Daerah tempatnya berladang tidak dilalui pengairan tertier, sehingga hanya tanaman jagung lah yang bisa tumbuh subur disana. Meskipun demikian, dia sangat bersyukur sebab dari ladang itulah dia bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan kedua anaknya hingga sarjana. Sang Nenek pun demikian juga, 60 tahun kini usianya, dengan mata yang agak rabun dan berkurang pendengarannya. Sang Nenek masih rajin mengantar makan siang dan menemani kakek di ladang hingga sore menjelang . Begitulah kehidupan mereka sehari ?hari.

Gempa dahsyat yang melanda pada 2007 yang lalu, sempat meruntuhkan rumah tinggal mereka yang sebagian memang masih terbuat dari kayu. Alhamdullilah?Keduanya selamat tanpa luka yang berarti. Hanya dapur, bagian rumah yang masih utuh tersisa. Beruntung ada bantuan dari Pemerintah untuk merenovasi , ditambah dengan sedikit uang tabungan dan bantuan dari kedua anaknya. Mereka bisa membangun kembali rumah tersebut sekedar untuk layak ditinggali. Lantai yang semula tegel, kini telah diplester rata, kaca ?kaca yang pecah telah diganti yang baru, sebagian genteng yang tersisa masih bisa dipakai kembali, sisanya diganti baru. Bangunan rumah sederhana dengan 3 kamar itu kini telah berdiri kembali .

Mereka berdua ditengok oleh anak- anak , menantu dan cucu- cucunya. Sesaat setelah magrib, mereka semua berkumpul di teras depan rumah.
?Saya menyukainya dan kerasan tinggal disini ?kata sang kakek dengan antusias seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat hadiah.

?Pak? Bapak dan Ibu lebih baik ikut Kami ke Kudus, atau ke Semarang. Sekedar untuk menghilangkan kesedihan dan kekhawatiran. Cucu ?cucu pasti akan senang bisa berkumpul dengan kakek- neneknya. 厰 . Begitu kata si menantu , berusaha membujuk mertuanya.


?Perkara itu tidak saling berhubungan, ini cuma cobaan kecil dari Allah??Sang Kakek menjawab.

?Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus diputuskan sejak dari awal, apakah aku akan menyukai atau tidak. Rumah yang indah tidak tergantung dari perabotan atau bentuknya , tetapi bagaimana Aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur. Sama seperti ketika Aku memutuskan untuk mencintai Ibumu??Kata Sang Kakek kemudian.

Sang Nenek menimpali ucapan suaminya. ?Aku mempunyai sebuah pilihan, Aku bisa sajaku ditempat tidur dan menceritakan kesulitan ?kesulitan yang terjadi padaku karena ada sebagian dari tubuhku yang tidak dapat berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian lain dari tubuhku yang masih berfungsi. ?menghabiskan waktu?

Setiap hari adalah hadiah, dan selagi mata hatiku terbuka? aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dengan semua kenangan indah bahagia yang pernah kualami dan kusimpan dalam - dalam. Umur yang sudah tua adalah seperti tabungan di bank. Kita hanya akan mengambil dari bagian yang telah kita simpan . Jadi, nasihatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan Kita. ?Demikian lanjut Sang Kakek.



Alhamdullillah?.Pelajaran apa yang dapat Kita petik dari cerita diatas?
Ingat ?ingatlah akan kunci hidup bahagia :
Bersyukur pada Allah atas apa yang telah Kita dapatkan.
Berpikir secara Sederhana.
Hilangkan rasa khawatir.
dan
Hiduplah dengan Cinta.....


Profil | Buat lencana kamu sendiri
Profil Facebook Asrul Martanto

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

Modernisasi Desa

MITOS KUCING HITAM