Modernisasi Desa



Ketika sama-sama semobil bersama teman sekantor, saya pernah dikritik karena saya pernah bercerita pengalaman masa lalu. Ya, kira-kira saya disebut sebagai manusia masa lalu. Ya, sudah. Sambung rasa itu hanya akan berlangsung gayeng manis kalau ada kesamaan rasa. Dan hal itu tidak bisa dipaksakan karena masing-masing orang punya kepekaan rasa masing-masing. Saya semata-mata hanya mengandalkan daya ingatan; tidak lebih dari itu. 

 Ingatan saya kembali menerawang ke tahun 1983 pada saat mana saya masih duduk di kelas VI SD menjelang ujian. Saya lupa tanggal dan bulannya. Tetapi yang pasti menjelang peringatan 17 Agustus. Sebulan menjelang puncak acara, saya dan teman-teman sekelas VI selalu melakukan latihan gerakan senam irama yang diiringi lagu "Modernisasi Desa". 


Lama tidak mendengarkan lagu itu ; dan setelah menemukannya kembali di youtube barulah saya tahu bahwa bahwa liriknya itu ditulis oleh K.R.T. Wasitodipuro dan dikerjakan bersama antara Karyawan Direktorat Agraria Jawa Tengah ; RRI Semarang dan seniman kondang waktu itu : Ki Nartosabdho . 


 Di dalam melakukan gerakan senam irama ini, tangan memegang bilang tipis bambu berbentuk lingkaran. Gladi resik dilakukan sekali di aloon-aloon kotamadya pada hari Saptu sore, seminggu menjelang Hari H. 


Ketika gladi resik bubar, saya menyaksikan kirab pamitan para taruna Akabri senior yang tidak lama lagi akan dilantik sebagai perwira remaja oleh presiden. Para taruna kirab berpawai memberi hormat kepada walikota yang berdiri di mimbar kehormatan layaknya berpamitan kepada tetua kota ini. 


Inilah syair lagu "Modernisasi Desa" yang sering diperdengarkan di RRI dan radio siaran pemerintah daerah di seantero provinsi Jawa Tengah: 


 Ayo ayo kanca tilingena 

Kanca piyarsakna, enggal katindakna 
Desa kuwi wit kuna wis mesti tansah dadi obyek ning saiki ganti 
Modernisasi desa, ya tegese kuwi ca 
Kudu tansah dadi subyek melu nemtokake 
Ing bab politik ekonomi lan sosial 
 Lan kabudayan duwe oto aktivitas 
Mrih kang tundhone kanggo mbrantas pengangunguran 
Modernisasi desa, modernisasi desa Sa Indonesia 

 (Ayo ayu sobat dengarkan 

Sobat perhatikan, cepat laksanakan 
Desa itu sejak mula memang selalu jadi obyek tetapi sekarang berganti
Modernisasi desa, ya itulah maksudnya sobat 
Harus selalu jadi subyek ikut menentukan 
Dalam bidang politik, ekonomi dan sosial 
Dan kebudayaan punya aktivitas mandiri 
Agar pada akhirnya dapat memberantas pengangguran 
Modernisasi desa, modernisasi desa Se Indonesia) 

 Tibalah puncak acara yang dinanti-nanti. Para siswa SD sekotamadya bersiap di tengah aloon-aloon, berseragam serba putih memegang lingkaran bambu yang diberi jumbai-jumbai kertas berwarna warni. 

Nguing, nguing, nguing........, terdengar sirene meraung-raung voorrijders. 
Selaku inspektur upacara pembukaan acara ini adalah Komandan Kodim. 
Komandan Kodim naik ke mimbar dan mendapat penghormatan ala upacara militer. Kemudian dia memberi kata sambutannya (berpidato). 
Gayanya pasti memberi wejangan. 
Para murid kemudian mempertunjukkan kebolehannya menarikan gerak senam irama dengan diiringi lagu "Modernisasi Desa". 
 Mengapa harus seorang komandan kodim yang membuka acara ini? 
 Apakah waktu itu siswa sekolah dan kegiatan berkesenian sudah dikooptasi tentara? 
Pasti demikian adanya. .....
Bagaimana dengan pertunjukan barongsai yang pernah dilarang selama tiga dasawarsa lebih?
Yang jelas, sampai detik ini seniman puisi Wiji Thukul masih tidak diketahui di mana rimbanya sejak rama-ramai demo pro-demokrasi. 
 Demo oleh Wiji Thukul pasti tidak dengan bakar-bakaran ban bekas atau membakar bendera negara asing; Hanya dengan pembacaan puisi....... 
 Wiji Thukul hilang mungkin karena semboyannya yang terkenal, 
 "Hanya ada satu kata: Lawan !!!....". 

 Maafkan saya karena saya telah meromantisasi masa lalu. Tetapi sudahlah, tentara tidak perlu lagi seperti dulu repot membuka acara kegiatan kesenian. Almarhum Johann Sebastian Bach dan Wolfgang Amadeus Mozart bisa bingung karenanya....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUBLIC SPEAKING : MATERI & PESAN ( PART. 2 )

MITOS KUCING HITAM